03 Februari 2015

Jalur Puncak Kelud via Karangrejo

Jalur menuju puncak gunung Kelud yg paling populer adalah lewat desa Sugihwaras Kediri. Ini sekaligus menjadi jalur wisata bagi kebanyakan orang. Sebenarnya ada beberapa jalur lain dari Blitar yg dapat menjadi pilihan yaitu via desa Tulungrejo kec. Gandusari dan via desa Karangrejo kec. Garum. Namun keduanya merupakan jalur petualangan. Jalur desa Tulungrejo dapat di tempuh dengan mengambil jalan Wlingi - Batu, kemudian jika telah memasuki pasar desa Krisik ambil jalan yg naik ke atas dan 200m kemudian akan menemui gapura di sebelah barat jalan yg merupakan titik awal jalur.
Sedangkan jalur Karangrejo di mulai dengan memperhatikan tanda yg menunjukkan arah jalur kelud. Jika anda bingung bisa bertanya kepada warga desa. Jalur ini merupakan jalan rintisan yg konon katanya kelak menjadi jalur wisata kelud via Blitar, dimana saat ini pemerintah kabupaten sedang memperjuangkan hak kepemilikannya. Untuk saat ini sendiri kondisi jalan masih sebagian aspal sebagian makadam dan sebagian lain masih jalur alam gunung.
Pemandangan mulai fantastis jika telah mencapai titik atas ketika di sebelah jalan aliran kali putih terlihat jelas. Kita dapat berhenti sejenak di lokasi tersebut karena tersedia dua gubuk kecil dan tempat duduk untuk menikmati pemandangan.
Dari sini motor masih bisa meneruskan perjalanan naik ke atas hingga mencapai titik dimana kendaraan harus parkir, kemudian berjalan kaki jika ingin mencapai puncak kelud. Perlu di ketahui jika anda berniat mendaki maka anda akan mencapai puncak Sumbing yg merupakan puncak tertinggi kelud. Jika anda pernah ke gunung kelud via kediri, maka posisi puncak sumbing berada di sisi timur kawah yg mempunyai tebing tegak lurus seperti tembok.
Disarankan untuk tidak naik motor matic jika menempuh jalur Karangrejo ini.

27 Desember 2014

Sudah kemana saja setahun ini?

Tahun 2014 segera berakhir, saatnya merangkai cerita setahun ini. Setidaknya 12 kali saya melakukan traveling baik hanya sekedar bersepeda, bermotor maupun naik kereta api. Berikut:
1. Tgl 5 Januari bersepeda ke candi Gambarwetan.
2. Tgl 23 Februari bersepeda lagi ke tower Sumberasri melihat kondisi pasca erupsi gunung Kelud.
3. Tgl 13 April bersama 3 teman main komidi putar di aloon-aloon kota Batu.
4. Tgl 20 April main ke Rambut Monte dan bendungan Ngusri bersama teman-teman cewek yg baru saja lulus sekolah.
5. Tgl 18 Mei bersama 12 teman main ke Blitar selatan dengan tujuan Monumen Trisula dan pantai Pangi.
6. Tgl 25 Mei ke Candi Tepas Kesamben. Ini merupakan ketidak sengajaan karena awalnya ingin mengikuti event sepeda, karena jadwal mundur lalu bersepeda mencari rute sendiri dan ketemu candi tersebut.
7. Tgl 3 Agustus yg merupakan hari ke 7 idul fitri ke air terjun Kandung.
8. Tgl 28 September ke Pacitan yg merupakan touring sepeda motor bersama 12 orang yg memberi pengalaman lain tentang traveling.
9. Tgl 9 November naik kereta ber-6 ke Jombang yg niatnya berjudul 'sehari di kereta'.
10. Tgl 2 Desember - Yogyakarta. Ini merupakan perjalanan impian saya selama ini, meski sendirian tapi tak mengurangi rasa senang bisa mendatangi kota tersebut.
11. Tgl 14 Desember ke alas Maliran bersama 12 teman dengan bersepeda yg niatnya semula melihat kijang namun gagal dan di ganti dengan seru-seruan berfoto.
12. Tgl 21 Desember ke air terjun Lawean yg merupakan perjalanan paling seru karena berpetualang di dalam hutan dan harus menempuh bahaya.

Rasanya sangat menyenangkan dalam setahun dapat melakukan perjalanan sebanyak itu, apalagi di dampingi teman dekat yg menambah keseruan. Semoga tahun depan di berikan kemampuan menjelajah lebih banyak lagi sudut Indonesia yg indah banget. So, pada akhirnya hanya dapat mengucap alhamdulillah.

23 Desember 2014

Air terjun Lawean ketika musim hujan

Sudah banyak yg menuliskan tentang air terjun Lawean Tulungagung. Posisi tepatnya dimana, caranya mencapai tujuan, dan kondisi perjalanannya seperti apa. Yaps, kondisi perjalanan adalah hal yg akan berbeda bagi setiap orang yg pernah kesana. Kebetulan kami datang saat musim hujan, cuaca yg kurang baik untuk melakukan perjalanan.
Pagi hari pukul 06.30 wib kami ber-12 segera berangkat dari Blitar dengan harapan 2 jam bisa mencapai tujuan. Sehari sebelumnya hujan turun setengah hari sudah memberikan tanda buruk. Dan pukul 09.00 wib kami sampai di lapangan Candi Penampihan tempat yg bisa di jadikan sebagai parkir kendaraan. Setelah berfoto-foto ria karena pemandangan yg bagus segera kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki seperti yg tuliskan teman-teman lain di blog-nya. Hal pertama yg menyulitkan adalah tak adanya petunjuk menuju lokasi, sedangkan jalan setapak banyak bercabang. Salah mengambil jalan akan semakin menjauhkan perjalanan karena kondisi pegunungan. Bertanya kepada warga yg sedang berkebun menjadi satu-satunya pilihan. Perasaan mulai tak enak ketika mulai masuk hutan, kondisinya sangat rimbun, langit juga sering tak dapat di lihat karena tertutup pepohonan. Jalan sempit penuh semak belukar cukup menakutkan seandainya bertemu hewan liar. Di tambah langit yg mendung rata membuat perjalanan kami selalu dalam keadaan cukup gelap, padahal saat itu pukul 10 siang.
Semakin masuk ke dalam hutan perasaan semakin tak enak, apalagi air terjun juga belum terlihat. Setelah satu jam lebih berjalan akhirnya kami bermusyawarah dan di putuskan jika sampai pukul 11 belum mencapai tujuan maka kami harus kembali. Namun tak sampai 5 menit alhamdulillah kami tiba di lokasi. Air terjunnya memang bagus sayang hujan akhirnya mulai turun juga. Segala jas hujan yg kami bawa kami jadikan alat berlindung walaupun tak cukup untuk kami semua. Kemudian teman-teman segera berfoto-foto dan meninggalkan tempat, berbahaya jika berlama-lama dalam kondisi seperti itu di dalam hutan. Meski hujan makin lebat kami tetap melanjutkan perjalanan pulang. Jalan licin membuat sebagian teman-teman berkali-kali terpeleset jatuh. Kondisi tegang memuncak ketika harus menyeberang sungai dengan arus deras. Hujan lebat menyebabkan debit sungai yg tadinya tenang menjadi ganas. Salah satu kawan dari grup lain sempat terseret arus namun masih selamat. Kemudian kami saling membantu agar semua dapat selamat. Setelah tiga kali menyeberang arus deras dan berjalan lebih dari satu jam akhirnya kami bisa keluar hutan. Perasaan sangat plong kami semua bisa keluar dengan selamat dan hanya beberapa sandal yg hanyut.
Air terjun Lawean memang memukau, apalagi pemandangan selama perjalanan motor juga indah. Bagi yg menyukai tantangan tempat ini layak masuk daftar kunjung terutama ketika hujan.

25 Mei 2014

Candi Tepas

Candi Tepas berada di desa Tepas kecamatan Kesamben kabupaten Blitar. Secara tidak sengaja ketika saya bersepeda bertemu dengan papan penunjuk di pinggir jalan lintas Kesamben - Resap Ombo, langsung kami telusuri 5 menit langsung sampai lokasi. Menurut penjaga candi ini merupakan peninggalan era Majapahit dan sejak ditemukan belum pernah di pugar.
Minggu ini justru lebih seru, pagi sekali kami ngebut dari kota Blitar menuju Kesamben dengan maksud mengikuti funbike. Sampai disana ternyata acara mundur hari Kamis. Berhubung belum pernah bersepeda di daerah Kesamben, maka saya putuskan jalan sebentar. Dan beruntung bertemu dengan salah satu candi, hmmm..

24 Februari 2014

Tower Sumberasri pasca erupsi kelud 2014

Pada hari kamis malam jumat tanggal 13 Februari 2014 pukul 21.15 wib status gunung kelud dinyatakan awas oleh PVMBG, tak lama berselang tepatnya pukul 21.50 wib langsung terjadi letusan. Awan hitam membumbung tinggi menjadikan langit yg semula cerah berganti gelap mencekam. Awan hitam bercampur kilatan-kilatan petir perlahan-lahan menutupi cahaya bulan. Makin lama makin mencekam karena kilatan semakin banyak dan besar.
Gunung Kelud kemudian memuntahkan bermacam material debu dan batu yg menghujani wilayah sekitarnya.
Hari Minggu 23 Februari 2014 saya kembali mengayuh sepeda ke tower di desa Sumberasri Nglegok. Tak seperti biasanya tiap datang kesana, kali ini kami sengaja bersepeda sekaligus melihat keadaan daerah tower yg lumayan dekat dengan gunung kelud. Jika di wilayah Kota Blitar hanya terjadi hujan pasir ringan di sana terjadi hujan batu apung. Kerusakan yg ditimbulkan terlihat jelas terutama atap rumah dari esbes, semua berlubang. Genteng sebagian juga banyak yg pecah karena meratanya hujan batu tersebut. Daun-daun pohon yg berukuran lebar juga rusak semua tersayat batu. Jadi membayangkan betapa paniknya malam itu.

06 Januari 2014

Candi Gambar Wetan

Ini adalah candi yg letaknya cukup susah di jangkau, namun menyajikan suasana aneh. Bagaimana tidak, meski terletak di atas bukit dan di tengah perkebunan namun di sini lumayan bising mirip di tengah kota.
Suasana inilah yg menurut saya menarik, saat melihat candi sekaligus melihat ramainya suasana penambangan pasir kali bladak.
Jika anda mempunyai banyak waktu luang, sempatkan berwisata di Blitar utara. Candi Penataran lalu ke utara 1 km ada Blumbang (kolam) Pacuh, kemudian sedikit offroad menuju Candi Gambar Wetan dan finish di tower melihat hamparan bukit. Dan jangan lupa mengamati tempat-tempat tersebut kemudian berikan komentar dan saran agar pariwisata Kabupaten Blitar lebih baik.

03 Januari 2014

Nyemplung kali main tubing

Ini adalah sebuah angan-angan yg semoga dapat terwujud. Salah satu hal yg paling saya sukai ketika bersepeda bareng teman adalah ketika telah sampai tujuan dan di tempat tujuan tersebut ada sungai yg jernih langsung nyebur. Rasanya seger banget, apalagi kalau arusnya cukup deras bisa buat main-main. Kebetulan di Blitar ini banyak sungai yg bisa di buat main terutama daerah utara. Airnya jernih, pemandangan sekitar bagus, dan arusnya cenderung kuat.
Berkaca dari pengalaman di atas rasanya jadi kangen main di sungai, apalagi kalau lihat acara jalan-jalan di televisi sajiannya seperti itu. Namun untuk saat ini sepertinya sulit mengulang hal itu, sekarang jarang bertualang sepeda. Tapi rasanya kalau hanya ingin sekedar main-main di sungai kenapa tidak bawa motor, sekalian bawa teman yg banyak trus bawa ban dalam mobil juga. Main tubing, ngikut arus sungai. Hmmmm..sepertinya asik.
Tapi kapan ya.. Semoga saja segera terwujud.

06 Desember 2013

Ganti Nama

Terhitung mulai saat ini nama blog saya berganti dari 'zonasepeda' ke 'lewatsana'.

30 November 2013

Pantai Pudak

Tak ada hal istimewa di sini, sama saja dengan pantai-pantai lain di pesisir selatan pulau Jawa, pasir putih dan ombak besar samudera Hindia.
Namun bagi saya yg istimewa adalah perjuangan mencapai tempat ini. Bersepeda selama 3 jam sejauh 35 km dari kota Blitar sungguh memberikan pengalaman indah. Apalagi perjalanan sejauh itu harus di tempuh dengan naik turun gunung, jalanan rusak, dan sempat nyasar.
Selama berpetualang sepeda, inilah rute terberat yg pernah saya tempuh. Istimewa..

20 September 2013

Pantai Pelang

Lokasinya di Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek, hampir mencapai perbatasan Kabupaten Pacitan. Posisinya barat daya dan lumayan jauh dari pusat kota. Bukan hanya jauh, tapi jg di perlukan perjuangan ekstra untuk menuju tempat ini. Setidaknya 20km jalan rusak plus naik turun gunung siap menjadi sajian.
Sampai disana jangan kecewa jika tak bisa mendekat dan bermain di pantainya, karena antara pantai dan tempat parkir pengunjung di batasi sungai yg cukup lebar. Untuk mencapai pantai harus memutar agak jauh.
Sajian utama wisata disini justru sebuah air terjun. Ketika habis turun hujan, debit airnya cukup besar hingga hempasannya menimbulkan angin kencang.
Pantai Pelang sempat tayang dalam program Paradiso Trans 7 beberapa tahun lalu. Karena melihat tayangan itulah yg akhirnya mendorong saya dan teman-teman datang ke sana.
Jika di perhatikan tempat ini cukup unik, karena memadukan pantai dan air terjun yg jarang ada di tempat wisata lain. Namun menurut saya kurang nyaman untuk di kunjungi. Bukan hanya infrastruktur jalan yg kurang memadai, pantainya sulit di jangkau dan air terjunnya kurang tertata rapi. Air terjun tersebut tertutup oleh banyaknya pohon jambu, ada lapak pedagang dan sebuah bangunan permanen. Padahal seharusnya air terjun itu dapat di nikmati dari arah depan dan dari arah pantai. Jadi, jika ingin menikmati sejuknya air terjun harus mendekat terlebih dahulu.
Sedangkan sarana pendukungnya ada lahan parkir, beberapa lapak pedagang, dan mushola.

Im back

Ngeblog lagi ah, mumpung sekarang lebih mudah lewat selular. So, zonasepeda lanjuuuttt...

20 Desember 2009

Candi Simping





Banyak hal menarik yg bisa dinikmati saat bersepeda ke Kademangan. Salah satunya melihat Gua Jedog yg berada di atas Gunung Kidul. Lokasinya hanya bisa ditempuh dgn jalan kaki. Bentuk guanya menarik, untuk memasuki gua kita harus membawa tangga untuk menuruninya. Menurut salah satu warga, gua tersebut tidak memiliki latar cerita yg menarik. Namun..., jika sudah sampai ditempat tersebut, maka kita akan tersaji pemandangan pegunungan yg hijau nan indah. Dan tak ketinggalan pemandangan lansekap kota Blitar dari kejauhan. Menarik!!
Sekitar 500 m kearah barat, terdapat candi yg terkenal, namanya Candi Simping. Didalamnya disemayamkan abu raja Majapahit terakhir, Raden Wijaya. Sayang candi ini hanya berupa reruntuhan. Menurut yg jaga, tak ada upaya serius dari pemerintah untuk memugar situs bersejarah ini. Tempat ini juga sepi pengunjung, menurut beliau masyarakat sekarang lebih suka dengan wisata yg berbau modern. Ada hal yg menarik yg diungkapkannya "Jika tak ada orang terdahulu, tentunya tak ada kita".
Namun dari buku tamu yg ada di pos jaga, tamu asing ternyata juga hampir ada setiap bulannya, mereka ada yg datang dari Perancis, Jerman, Polandia, Jepang, dll. Tamu dari nusantara juga ada, kebanyakan pelajar.

19 Juli 2009

Mleri




Menurut penjaga setempat, Mleri adalah sebuah komplek makam Raja Ranggawuni, raja Singosari ke3.
Letaknya di Desa Bagelenan Kecamatan Srengat Kabupatem Blitar, dan terletak di selatan Gunung Pegat. Letaknya berada di gang desa yang kecil sehingga perlu beberapa kali bertanya kepada warga sekitar untuk menemukan lokasinya.
Didalam kompleks situs sejarah tersebut terdapat beberapa pusara dan beberapa prasasti berhuruf palawa. Dan terdapat benda yang menunjukkan sengkala.
Jika anda berkunjung ke tempat ini di pagi hari mungkin anda akan bertemu dengam bapak penjaga yang dengan jelas akan memberikan informasi yang berharga seputar Kekunaan Mleri.

29 Juni 2009

Balerejo











Bagi sebagian penggemar sepeda
wisata seperti kami, mencari pemandangan hijau pegunungan di pagi hari adalah suatu yang sangat menyenangkan. Meskipun kami harus menempuh puluhan kilometer untuk mendapatkan tujuan yang dimaksud. Bahkan tanjakan terjal mesti kami lahap karena secara geografis pegunungan jauh dari Kota Blitar, tempat kami tinggal.
Pukul 5 pagi kami sudah mulai gowes, kali ini sebuah vihara di Desa Balerejo Kecamatan Doko menjadi tujuan. Saat ini Blitar sudah memasuki musim kering, jadi pagi ini masih terasa dingin banget. Tapi hal itu tidak menyurutkan niat kami.
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 30 menit, kami sampai di Desa Tegalasri dan beristirahat sejenak. Kami juga sempat berpapasan dengan biker dari Wlingi, tapi kami tidak satu tujuan. Setelah merasa cukup, kami melanjutkan perjalanan. Meskipun kaki sudah mulai terasa pegal, namun hijaunya pemandangan sungguh bisa menjadi obat lelah. Hawa pegunungan yang sejuk juga banyak membantu kami agar tak kepanasan dan dehidrasi.
Pada pukul 07.30 WIB kami tiba di lokasi. Agak heran juga karena di sebuah desa yang jauh dari kota terdapat bangunan vihara yang begitu megah. Kami tidak sampai melihat bagian dalam, tapi dari luar tampak jika vihara tersebut sangat luas.
Kami tidak dapat berlama-lama menikmati pemandangan disini, karena meski sudah jam 8 pagi, tetapi angin yang berhembus masih cukup dingin hingga mengusir kami untuk segera turun. Salah satu yang mengasyikkan bersepeda di pegunungan adalah ketika perjalanan turun. Tanpa bersusah payah kami dapat meluncur dengan kencang.
Perjalanan berubah menjadi tidak menyenangkan ketika memasuki jalan propinsi Blitar - Malang. Bus, truk, dan kendaraan besar lain bergantian mendahului kami. Meskipun kaki sudah lelah, kami harus genjot sepeda untuk menghindari polusi dan suara bising kendaraan bermesin. Untung perjalanan pulang ini jalan cukup landai dan cenderung banyak turunannya.
Sepertinya rute yang kami tempuh kali ini sekitar 70km. Dan saya merasakan bahwa sepeda tipe all mountain saya terasa lebih berat untuk menjalani rute sejauh itu. Kenapa ya???

10 Juni 2009

Air Terjun Kandung

Suasananya sejuk karena berada diatas gunung kidul yang banyak pohonnya. Teman saya begitu penasaran dengan tempat ini, saya pun jadi ikut ingin tahu. Air terjun ini di namai Kandung. Entah mengapa disebut seperti itu, tapi yang jelas air terjun ini berada di Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung Propinsi Jawa Timur.
Karena saya tinggal di Blitar, jam 05.30 WIB pagi kami sudah berangkat. Setelah menyeberang sungai Brantas dengan menumpang perahu 'getek' yang lazim disebut nambang, kami tiba di wilayah Tulungagung. Perjalanan kami lanjutkan, dan setelah 1 jam bersepeda dari rumah kami tiba dilokasi. Tapi kami kesulitan menemukan tempat air terjun itu berada. Setelah beberapa lama mencari dan tidak menemukan, maka kami putuskan untuk pulang saja.
Beberapa meter kami turun, ternyata kami bertemu teman-teman pesepeda lainnya. Kami sepakat mencari kembali lokasi air terjun. Senang sekali rasanya begitu lokasinya kami jumpai, tempatnya begitu tersembunyi, dan puas rasanya bisa menikmati pemandangan air terjun dengan jurang seram di sebelahnya. Rasanya ingin mandi di bawah air terjun tapi terlalu berbahaya...!!

31 Maret 2009

Candi Sawentar























Pada tahun 1316 dan 1317 Kerajaan Majapahit carut marut karena pemberontakan. Kondisi tersebut memaksa Raja Jayanegara menyelamatkan diri ke Desa Bedander dengan kawalan pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada. Berkat siasatnya, Raja Jayanegara berhasil naik tahta kembali. Oleh karena sambutan hangat dan perlindungan yang diberikan masyarat desa tersebut, maka Raja Jayanegara pun memberikan hadiah berupa prasasti kepada penduduk Desa Bedander.
Peristiwa penting tersebut terjadi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana tahun Saka 1246 atau tahun 1324 Masehi, sesuai dengan tanggal yang tercantum pada prasasti. Dan tanggal itulah yang kemudian diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Blitar.
Pada bulan Waisaka tahun Saka 1283 atau 1361 Masehi, Raja Hayam Wuruk beserta pengiringnya menyempatkan diri singgah di Blitar untuk mengadakan pemujaan di Candi Penataran. Dan tidak hanya itu, rombongan tersebut juga singgah di tempat-tempat yang dianggap suci, salah satunya Sawentar (Lwangwentar) di Dusun Centong Desa Sawentar Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar.

09 Desember 2008

Mengenang Masa Lalu




Hari ini jalanan di Kota Blitar tampak lebih lengang dari biasanya, mungkin ini juga terjadi di kota-kota lain karena hari ini minggu.
Salah satu jalan yang setiap paginya sangat ramai adalah Jl. Soedanco Soeprijadi. Di jalan yang panjangnya sekitar 1 km ini terdapat beberapa kantor, seperti rumah dinas Walikota, kantor Pemerintah Kota Blitar, dan beberapa kantor dinas yang lain. Namun yang yang paling mendominasi pengguna jalan ini adalah anak-anak sekolah.
Terdapat beberapa sekolah mulai tingkat SD, SMP, hingga SMA yang berada di sekitar jalan yang terdapat Taman Makam Pahlawan Raden Wijaya ini. Bahkan dari beberapa sekolah itu diantaranya menempati gedung yang saling terhubung satu dengan lainnya. Bangunan yang panjang dan nampak beraksitetur jaman Belanda itu dulunya merupakan markas tentara PETA. Kini orang lebih mengenalnya dengan istilah komplek SMP, karena terdapat 3 SMP yang menempati bangunan ini, bahkan 10 tahun yang lalu 5 SMP berada di sini.
Cukup mudah untuk mengenali daerah ini, karena jika kita melintas di depan kompleks SMO|P ini kita akan menjumpai patung berjumlah tujuh buah. Patung tersebut adalah patung Soedanco Soeprijadi dan patung pejuang PETA lainnya. Soeprijadi adalah tokoh sentral pejuang PETA di Blitar pada 14 Februari 1945. Bagi orang Blitar, seorang Soeprijadi hanya kalah populer dengan proklamator Bung Karno. Hal ini tidak mengherankan mengingat setelah perjuangannya waktu itu beliau menghilang tanpa jejak, keberadaannya hingga kini tidak diketahui dengan pasti, masih hidup atau sudah meninggal. Bahkan pada Agustus kemarin tokoh Soeprijadi menjadi perdebatan kembali karena munculnya seorang dari Semarang yang mengaku sebagai Soeprijadi.
10 tahun yang lalu jalan ini masih bernama Jl. Pahlawan, pada saat itu patung pejuang PETA tersebut juga belum berjumlah tujuh buah. Hanya sebuah patung kecil berada di tengah taman sekolah itu. Seiring dengan motto pemerintah Kota Blitar yang mengusung tema Kota Perdagangan dan Pariwisata, maka patung Soeprijadi mengalami perubahan dan penambahan. Sedangkan kabar yang beredar saat ini, nantinya komplek sekolah yang berada di selatan patung ini juga akan beralih fungsi menjadi museum sejarah.
Jika anda bepergian dari Malang ke Tulungagung ataupun sebaliknya, mungkin anda akan melewati jalan ini kerena jalur ini merupakan penghubung antar kota.

06 November 2008

Funbike HUT TNI




Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-63, pada hari Minggu 2 November 2008 kemarin Kodim 0808 Blitar menggelar Funbike. Event yang mengambil start dan finish di Jl. A.Yani Blitar itu merupakan funbike pertama sejak puasa dan lebaran tahun ini. Pada pukul 06.30 WIB, rombongan peserta dilepas di depan kantor Kodim 0808.
Menempuh jarak sekitar 20km untuk rute panjang, peserta sepeda santai bergerak ke arah utara menyusuri jalan sekitar makam Bung Karno hingga sampai perempatan Ngrobyong, kemudian bergerak ke timur mencapai daerah Kutukan. Dilanjutkan kearah selatan hingga memasuki wilayah kota kembali. Di garis finish peserta dihibur oleh musik dangdut, tak ketinggalan beberapa sponsor juga ikut membagikan hadiah.
Dalam event kali ini nampaknya tak begitu banyak peserta luar kota yang datang. Dari yang terlihat, hanya beberapa truk pengangkut sepeda yang terparkir disekitar area acara. Padahal panitia telah menyediakan dua buah sepeda motor sebagai hadiah utamanya dan bermacam-macam doorprice lain.
Selain funbike, panitia juga menggelar acara donor darah sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap sesama.