Sudah banyak yg menuliskan tentang air terjun Lawean Tulungagung. Posisi tepatnya dimana, caranya mencapai tujuan, dan kondisi perjalanannya seperti apa. Yaps, kondisi perjalanan adalah hal yg akan berbeda bagi setiap orang yg pernah kesana. Kebetulan kami datang saat musim hujan, cuaca yg kurang baik untuk melakukan perjalanan.
Pagi hari pukul 06.30 wib kami ber-12 segera berangkat dari Blitar dengan harapan 2 jam bisa mencapai tujuan. Sehari sebelumnya hujan turun setengah hari sudah memberikan tanda buruk. Dan pukul 09.00 wib kami sampai di lapangan Candi Penampihan tempat yg bisa di jadikan sebagai parkir kendaraan. Setelah berfoto-foto ria karena pemandangan yg bagus segera kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki seperti yg tuliskan teman-teman lain di blog-nya. Hal pertama yg menyulitkan adalah tak adanya petunjuk menuju lokasi, sedangkan jalan setapak banyak bercabang. Salah mengambil jalan akan semakin menjauhkan perjalanan karena kondisi pegunungan. Bertanya kepada warga yg sedang berkebun menjadi satu-satunya pilihan. Perasaan mulai tak enak ketika mulai masuk hutan, kondisinya sangat rimbun, langit juga sering tak dapat di lihat karena tertutup pepohonan. Jalan sempit penuh semak belukar cukup menakutkan seandainya bertemu hewan liar. Di tambah langit yg mendung rata membuat perjalanan kami selalu dalam keadaan cukup gelap, padahal saat itu pukul 10 siang.
Semakin masuk ke dalam hutan perasaan semakin tak enak, apalagi air terjun juga belum terlihat. Setelah satu jam lebih berjalan akhirnya kami bermusyawarah dan di putuskan jika sampai pukul 11 belum mencapai tujuan maka kami harus kembali. Namun tak sampai 5 menit alhamdulillah kami tiba di lokasi. Air terjunnya memang bagus sayang hujan akhirnya mulai turun juga. Segala jas hujan yg kami bawa kami jadikan alat berlindung walaupun tak cukup untuk kami semua. Kemudian teman-teman segera berfoto-foto dan meninggalkan tempat, berbahaya jika berlama-lama dalam kondisi seperti itu di dalam hutan. Meski hujan makin lebat kami tetap melanjutkan perjalanan pulang. Jalan licin membuat sebagian teman-teman berkali-kali terpeleset jatuh. Kondisi tegang memuncak ketika harus menyeberang sungai dengan arus deras. Hujan lebat menyebabkan debit sungai yg tadinya tenang menjadi ganas. Salah satu kawan dari grup lain sempat terseret arus namun masih selamat. Kemudian kami saling membantu agar semua dapat selamat. Setelah tiga kali menyeberang arus deras dan berjalan lebih dari satu jam akhirnya kami bisa keluar hutan. Perasaan sangat plong kami semua bisa keluar dengan selamat dan hanya beberapa sandal yg hanyut.
Air terjun Lawean memang memukau, apalagi pemandangan selama perjalanan motor juga indah. Bagi yg menyukai tantangan tempat ini layak masuk daftar kunjung terutama ketika hujan.
23 Desember 2014
Air terjun Lawean ketika musim hujan
25 Mei 2014
Candi Tepas
Candi Tepas berada di desa Tepas kecamatan Kesamben kabupaten Blitar. Secara tidak sengaja ketika saya bersepeda bertemu dengan papan penunjuk di pinggir jalan lintas Kesamben - Resap Ombo, langsung kami telusuri 5 menit langsung sampai lokasi. Menurut penjaga candi ini merupakan peninggalan era Majapahit dan sejak ditemukan belum pernah di pugar.
Minggu ini justru lebih seru, pagi sekali kami ngebut dari kota Blitar menuju Kesamben dengan maksud mengikuti funbike. Sampai disana ternyata acara mundur hari Kamis. Berhubung belum pernah bersepeda di daerah Kesamben, maka saya putuskan jalan sebentar. Dan beruntung bertemu dengan salah satu candi, hmmm..
24 Februari 2014
Tower Sumberasri pasca erupsi kelud 2014
Pada hari kamis malam jumat tanggal 13 Februari 2014 pukul 21.15 wib status gunung kelud dinyatakan awas oleh PVMBG, tak lama berselang tepatnya pukul 21.50 wib langsung terjadi letusan. Awan hitam membumbung tinggi menjadikan langit yg semula cerah berganti gelap mencekam. Awan hitam bercampur kilatan-kilatan petir perlahan-lahan menutupi cahaya bulan. Makin lama makin mencekam karena kilatan semakin banyak dan besar.
Gunung Kelud kemudian memuntahkan bermacam material debu dan batu yg menghujani wilayah sekitarnya.
Hari Minggu 23 Februari 2014 saya kembali mengayuh sepeda ke tower di desa Sumberasri Nglegok. Tak seperti biasanya tiap datang kesana, kali ini kami sengaja bersepeda sekaligus melihat keadaan daerah tower yg lumayan dekat dengan gunung kelud. Jika di wilayah Kota Blitar hanya terjadi hujan pasir ringan di sana terjadi hujan batu apung. Kerusakan yg ditimbulkan terlihat jelas terutama atap rumah dari esbes, semua berlubang. Genteng sebagian juga banyak yg pecah karena meratanya hujan batu tersebut. Daun-daun pohon yg berukuran lebar juga rusak semua tersayat batu. Jadi membayangkan betapa paniknya malam itu.
06 Januari 2014
Candi Gambar Wetan
Ini adalah candi yg letaknya cukup susah di jangkau, namun menyajikan suasana aneh. Bagaimana tidak, meski terletak di atas bukit dan di tengah perkebunan namun di sini lumayan bising mirip di tengah kota.
Suasana inilah yg menurut saya menarik, saat melihat candi sekaligus melihat ramainya suasana penambangan pasir kali bladak.
Jika anda mempunyai banyak waktu luang, sempatkan berwisata di Blitar utara. Candi Penataran lalu ke utara 1 km ada Blumbang (kolam) Pacuh, kemudian sedikit offroad menuju Candi Gambar Wetan dan finish di tower melihat hamparan bukit. Dan jangan lupa mengamati tempat-tempat tersebut kemudian berikan komentar dan saran agar pariwisata Kabupaten Blitar lebih baik.
03 Januari 2014
Nyemplung kali main tubing
Ini adalah sebuah angan-angan yg semoga dapat terwujud. Salah satu hal yg paling saya sukai ketika bersepeda bareng teman adalah ketika telah sampai tujuan dan di tempat tujuan tersebut ada sungai yg jernih langsung nyebur. Rasanya seger banget, apalagi kalau arusnya cukup deras bisa buat main-main. Kebetulan di Blitar ini banyak sungai yg bisa di buat main terutama daerah utara. Airnya jernih, pemandangan sekitar bagus, dan arusnya cenderung kuat.
Berkaca dari pengalaman di atas rasanya jadi kangen main di sungai, apalagi kalau lihat acara jalan-jalan di televisi sajiannya seperti itu. Namun untuk saat ini sepertinya sulit mengulang hal itu, sekarang jarang bertualang sepeda. Tapi rasanya kalau hanya ingin sekedar main-main di sungai kenapa tidak bawa motor, sekalian bawa teman yg banyak trus bawa ban dalam mobil juga. Main tubing, ngikut arus sungai. Hmmmm..sepertinya asik.
Tapi kapan ya.. Semoga saja segera terwujud.
06 Desember 2013
30 November 2013
Pantai Pudak
Tak ada hal istimewa di sini, sama saja dengan pantai-pantai lain di pesisir selatan pulau Jawa, pasir putih dan ombak besar samudera Hindia.
Namun bagi saya yg istimewa adalah perjuangan mencapai tempat ini. Bersepeda selama 3 jam sejauh 35 km dari kota Blitar sungguh memberikan pengalaman indah. Apalagi perjalanan sejauh itu harus di tempuh dengan naik turun gunung, jalanan rusak, dan sempat nyasar.
Selama berpetualang sepeda, inilah rute terberat yg pernah saya tempuh. Istimewa..
20 September 2013
Pantai Pelang
Lokasinya di Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek, hampir mencapai perbatasan Kabupaten Pacitan. Posisinya barat daya dan lumayan jauh dari pusat kota. Bukan hanya jauh, tapi jg di perlukan perjuangan ekstra untuk menuju tempat ini. Setidaknya 20km jalan rusak plus naik turun gunung siap menjadi sajian.
Sampai disana jangan kecewa jika tak bisa mendekat dan bermain di pantainya, karena antara pantai dan tempat parkir pengunjung di batasi sungai yg cukup lebar. Untuk mencapai pantai harus memutar agak jauh.
Sajian utama wisata disini justru sebuah air terjun. Ketika habis turun hujan, debit airnya cukup besar hingga hempasannya menimbulkan angin kencang.
Pantai Pelang sempat tayang dalam program Paradiso Trans 7 beberapa tahun lalu. Karena melihat tayangan itulah yg akhirnya mendorong saya dan teman-teman datang ke sana.
Jika di perhatikan tempat ini cukup unik, karena memadukan pantai dan air terjun yg jarang ada di tempat wisata lain. Namun menurut saya kurang nyaman untuk di kunjungi. Bukan hanya infrastruktur jalan yg kurang memadai, pantainya sulit di jangkau dan air terjunnya kurang tertata rapi. Air terjun tersebut tertutup oleh banyaknya pohon jambu, ada lapak pedagang dan sebuah bangunan permanen. Padahal seharusnya air terjun itu dapat di nikmati dari arah depan dan dari arah pantai. Jadi, jika ingin menikmati sejuknya air terjun harus mendekat terlebih dahulu.
Sedangkan sarana pendukungnya ada lahan parkir, beberapa lapak pedagang, dan mushola.
20 Desember 2009
Candi Simping
Banyak hal menarik yg bisa dinikmati saat bersepeda ke Kademangan. Salah satunya melihat Gua Jedog yg berada di atas Gunung Kidul. Lokasinya hanya bisa ditempuh dgn jalan kaki. Bentuk guanya menarik, untuk memasuki gua kita harus membawa tangga untuk menuruninya. Menurut salah satu warga, gua tersebut tidak memiliki latar cerita yg menarik. Namun..., jika sudah sampai ditempat tersebut, maka kita akan tersaji pemandangan pegunungan yg hijau nan indah. Dan tak ketinggalan pemandangan lansekap kota Blitar dari kejauhan. Menarik!!
Sekitar 500 m kearah barat, terdapat candi yg terkenal, namanya Candi Simping. Didalamnya disemayamkan abu raja Majapahit terakhir, Raden Wijaya. Sayang candi ini hanya berupa reruntuhan. Menurut yg jaga, tak ada upaya serius dari pemerintah untuk memugar situs bersejarah ini. Tempat ini juga sepi pengunjung, menurut beliau masyarakat sekarang lebih suka dengan wisata yg berbau modern. Ada hal yg menarik yg diungkapkannya "Jika tak ada orang terdahulu, tentunya tak ada kita".
Namun dari buku tamu yg ada di pos jaga, tamu asing ternyata juga hampir ada setiap bulannya, mereka ada yg datang dari Perancis, Jerman, Polandia, Jepang, dll. Tamu dari nusantara juga ada, kebanyakan pelajar.